Stagustaf

Life's like a multiple choice question, sometimes the choices confuse you, not the question itself

The light that shines the brightest is the one in the darkest.

The light that shines the brightest is the one in the darkest.

Saat gelap datang karena mati lampu di rumah, semua orang mengumpat kesal. “Yah mati lampu, kampret nih PLN!”

Padahal mati lampu justru membuat seluruh anggota keluarga kumpul di ruang tamu, ngobrol ngalur ngidul, becanda ketawa ketiwi, ada yg main gitar dan mulai bernyanyi bersama, bergosip seru atau bahkan membuat lelucon yang akhirnya membuat yg lain tertawa. Masih inget saat kita kecil dulu pas mati lampu kan?🙂

Kegelapan membuat kita bersatu dan berkumpul.

Padahal saat mati lampu adalah saat yg tepat untuk merenung, ditutup satu indra yaitu penglihatan supaya tidak banyak gangguan visual dalam berkonsentrasi untuk berpikir.

Kegelapan membuat kita berpikir lebih jernih

Padahal dulu ketika kita ingin berkhayal dan membayangkan hal-hal yg indah dalam hidup, kita selalu menutup mata, dan imajinasi pun mengalir dengan mudah saat mata tertutup.

Kegelapan membuka pintu imajinasi

Padahal cara bersyukur yg paling mudah adalah menutup mata selama 30 detik dan membayangkan kalau kita tidak bisa melihat apa-apa alias buta, kita jadi bersyukur masih diberi penglihatan.

Kegelapan membuat kita merasa bersyukur dan menghargai anugrah Tuhan.

Berarti kalau banyak hal yang baik dari kegelapan, kenapa kita harus takut atau kesal karena-nya ya?🙂

Sering kali saat kegelapan datang dalam hidup, kita mengeluh dan mengumpat “Kenapa hidup gue gelap banget sih?”

Padahal saat diberi kegelapan, kita sedang diberikan kesempatan untuk berpikir jernih, konsentrasi untuk memikirkan sesuatu yg kita anggap penting dipikirkan.

Mencari solusi dari masalah, bukan memikirkan masalahnya.

Sedikit sekali dari kita berjanji untuk merubah hidup ke arah yg lebih baik disaat senang atau disaat terang.

Tapi musibah, cobaan hidup atau sebutlah masa tergelap dalam hidup kita jadi sebuah titik balik untuk kita menyadari semua kesalahan, menyesali hal buruk yg kita lakukan dan berjanji untuk merubahnya untuk menjadi lebih baik.

Dan selalu moment ini terjadi disaat hidup kita gelap.

Menariknya disaat masa tergelap dalam hidup sudah kita lewati, kita jadi sangat senang dan lebih menghargai sebuah cahaya.

Nah Kembali ke teori gelap mati lampu tadi, saat PLN Kampret tadi menyalakan lampu, sontak semua orang di rumah berteriak “NAHHHH NYALAAAAAA DEH!!” atau “ALHAMDULILLAH NYALAAA!!” atau “HOREEEE NYALAAA!!”

Kesimpulan-nya :

Saat kita diberi kegelapan atau masalah, sesungguhnya itulah kesempatan kita bisa bersinar seterang-terangnya menjadi diri kita,

asal kita tau bagaimana caranya mengubah pikiran negatif tsb menjadi sebuah energi yang positif.

The light that shines the brightest is the one in the darkest.

-Steny Agustaf-

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: